Friday, October 20, 2017

Yha.



Dan aku pun bingung.
Kenapa tiba-tiba blog ini dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang, entahlah, menggelikan?
Harus kuakui, jika seseorang menggunakan perasaannya, ia mampu berubah menjadi anak nyastra dalam sekejap.
Karena mengungkapkan dengan tulisan terkadang lebih mudah daripada mengucap langsung.
Hehe ketauan deh.
Sebagian besar postingan yang kubuat akhir-akhir ini memang terinspirasi oleh sesuatu.
Atau bisa dibilang, oleh seseorang.
Tidak penting apakah orang tersebut beneran ada atau bisa jadi fiksional, namun sosoknya selalu nyata dalam angan.
Aku bahkan tidak benar-benar paham apa yang aku rasakan.
Tulisan-tulisan itu mengalir begitu saja, sama seperti rasa ini yang tidak sengaja kubangun dan tumbuh begitu saja.
Sempat aku sampai di fase menyerah.
Sadar diri, yas.
Berkali-kali otak menyerukan hal itu.
Yah, apa daya, esoknya aku kembali luluh. Secepat itu.
Secepat melihat sosoknya, nyata maupun maya.
Nahkan mulai keluar lagi alaynya.
Aku jadi teringat perkataan temanku suatu malam di kedai kopi;
Rasa itu anugerah, yas. Untuk mempertahankan rasa itu baru pilihan.
Hei, aku bahkan tidak pernah tahu kapan aku menentukan ‘pilihan’ itu.
Yang kutahu, aku masih bertahan.
Dengan kokoh, masih dengan rasa yang sama.
Bodoh? Silakan tentukan sendiri.
Jika angka probabilitas bisa di bawah 0, mungkin itulah yang akan kudapat terhadap kisah ini.
Kisah tentang si pecinta hujan, yang tak kunjung mendapat pelangi.
Ah, yasudahlah.
Masih banyak yang harus kutata dalam hidup ini.

Mungkin akal sehatku memang benar, aku harus mulai sadar diri.

1 comment:

  1. JATUH CINTA MEMBUAT PEMBOHONGAN IDENTITAS
    MEMBUAT SEORANG FISIPOL MENJADI FIB
    BUKU PENGANTAR POLITIK JADI BUKU SHAKESPEARE
    BABY SHARK DUDUDUDUDU

    ReplyDelete