Tuesday, December 22, 2015

Puzzle

 

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti,
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda
[Efek Rumah Kaca – Desember]


Hari-hariku berjalan seperti biasa, senormal bangun di pagi hari dan kembali ke kasur pukul 9. Hingga suatu saat aku dan seorang kawanku mencoba untuk melakukan sebuah aktivitas yang disebut bermain. Terdapat banyak pilihan, tapi pilihan kami jatuh pada permainan ular tangga dan puzzle. Entah kenapa kami cukup tertarik dengan dua papan permainan tersebut. Oh ya, sebenarnya kami tidak langsung bermain, kami hanya berdiri disitu memperhatikan orang-orang yang telah bermain lebih dahulu dengan permainan-permainan tadi.

Kawanku berkata bahwa aku sebaiknya mencoba bermain puzzle sementara ia bermain ular tangga, lagipula disitu juga sudah ada beberapa orang sedang bermain dengan ular tangga tersebut. Aku tahu yang diucapkannya hanya sebuah candaan karena kami sama-sama menikmati permainan ular tangga tadi, walaupun puzzle di meja sebelah tak sedikitpun luput dari perhatian kami. Aku pun iseng mencoba untuk merangkai puzzle. Keping demi keping kusambungkan jadi satu, walaupun aku sendiri masih belum tahu gambar apa yang akan dihasilkan puzzle tersebut.


Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati
[Raisa – Jatuh Hati]


Aku tak tahu sejak kapan maupun apa sebabnya, tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa aku memang teramat menikmati permainan itu. Bertingkah seperti hanya sekedar bermain untuk mengisi waktu, orang-orang tak menyadari bahwa dalam hati aku benar-benar candu untuk menyatukan kepingan puzzle tadi. Yah, setidaknya itu menurut padanganku. Aku tak tahu apakah sudah ada diantara mereka yang mengetahui rahasia kecilku itu. Tapi aku tak peduli, aku bertekad untuk tetap memainkan puzzle itu. Tak peduli jika ada segelintir orang yang mengatakan bahwa permainan puzzle membosankan atau apalah.

Terlalu sibuk merangkai kepingan-kepingan puzzle, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa kamu sedari tadi memperhatikan. Atau mungkin kamu memang memperhatikan semua orang yang sedang bermain di tempat ini? Entahlah, aku tak mau berprasangka lebih jauh lagi. Aku merasa cukup senang, puzzle yang kususun tinggal tersisa 3 keping.

Sekali lagi tanpa kusadari, tiba-tiba kamu sudah berada di hadapanku. Kamu langsung membantuku menyelesaikan puzzle tadi. Hingga tersisa kepingan terakhir dan aku pun mengerti bahwa ternyata kamu menghampiriku karena di mejaku hanya ada 2 keping puzzle, dan kulihat tanganmu menggenggam kepingan yang terakhir. Aku sangat senang. Kita nyaris menyelesaikan puzzle itu.

Namun, keadaan seketika berubah. Nyaris sekali kamu memasang kepingan tadi tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan kepingan puzzle itu entah kemana.


Saat aku mencoba merubah segalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang
[D’Masiv – Merindukanmu]


Aku tak tahu apa kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaanku saat hal itu terjadi. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan menyuruhku untuk bersyukur karena setidaknya puzzle-ku sudah hampir selesai. Aku sedih. Mengapa kepingan terakhir itu belum sempat terpasang saat angin tadi muncul? Mengapa harus seperti ini?

Kepingan yang kamu pegang adalah penentu apakah gambar yang tercipta di rangkaian puzzle ini indah atau malah sebaliknya –tercipta gambar yang suram. Melihat keseluruhan rangkaian puzzle yang belum lengkap hanya akan membuatku menerka-nerka gambar apa yang akan dihasilkan, tanpa memperoleh kepastian. Satu keping tadi dianggap orang lain tak perlu dipikirkan, tapi, menurutku itu penting. Aku sedih. Juga bahagia. Bagiku saat ini keduanya tak ada bedanya.

Aku melihatmu yang masih berdiri di hadapanku, terpaku melihat kejadian tadi. Dengarlah, aku tak butuh ditenangkan. Aku tahu ini egois, tapi aku ingin sekali mengetahui kepingan terakhir tadi, yang bahkan belum sempat kusentuh ataupun kulihat gambarnya. Naasnya, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa. Aku mencoba mengikhlaskan kepingan itu tapi jujur tak mampu kulakukan. Dalam lubuk hati yang terdalam aku masih berharap bahwa aku akan menemukan kepingan tadi suatu saat. Mungkin saat aku berjalan di suatu tempat lalu menemukannya? Haha.


Selama aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan selalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi engkau ada dimana
[D’Masiv – Merindukanmu]


Tak lama lagi ku yakin kamu akan berjalan pergi. Menemukan kepingan puzzle lain lalu membantu orang yang membutuhkannya seperti aku. Aku ingin memaksakan kehendakku tapi nyatanya tak kan pernah bisa. Puzzle ini akan tetap berakhir seperti ini, nyaris lengkap namun tak pernah seutuhnya selesai. Menyisakan pertanyaan, apakah memang akan tercipta gambaran indah atau runyam? Atau hanya sebuah gambar biasa tanpa ada yang istimewa? Hm entahlah, selamanya puzzle ini akan tetap samar. Lebih baik aku mengetahui bahwa puzzle yang selama ini kususun susah payah tidak membentuk citra yang elok, daripada aku harus terjebak dalam tebakan akan segala yang mungkin terjadi.


Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam
[Sandy Sandoro – Tak Pernah Padam]


Seandainya. Ya, seandainya aku bisa menemukan kepingan itu.



Rabu, 22 Juli 2015

–  Ayaszki –

No comments:

Post a Comment